Begini Kronologis Kasus Difteri di Kota Ternate dan Upaya Cegah Penyebarannya

Begini Kronologis Kasus Difteri di Kota Ternate dan Upaya Cegah Penyebarannya
Kepala Dinas Kesehatan Kota ternate, dr. Fathiyah Suma. (Foto: Dok. Dinkes Ternate/Nuraini

Setelah sekian lama tidak pernah didapat laporan kemunculannya sejak 2018 dan 2022, satu kasus suspect yang diduga penyakit difteri dilaporkan muncul di Ternate. Instansi terkait pun berupaya melakukan pencegahan penyebarannya.

Ternate, Pijarpena.id

Data SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ternate mencatat terdapat satu laporan kasus suspect difteri pada minggu ke-32 tahun 2025.

Adapun kronologisnya berdasarkan informasi yang diperoleh Pijarpena.id dari sumber resmi di Dinkes Kota Ternate, penemuan kasus pertama kali dilaporkan pada 7 Agustus 2025 oleh dokter spesialis anak di RSUD Chasan Boesoeri yang sementara dirawat di IGD.

Baca pula:  Menteri ATR/BPN Komitmen Percepatan Sertifikasi Tanah dan RDTR Maluku Utara

Berdasarkan keluhan pasien, dokter praktek menemukan adanya pseudomembran putih keabu-abuan di tenggorokan sehingga pasien pun dirujuk ke RSUD untuk mendapatkan pengobatan.

Kepala Dinkes Kota Ternate, dr Fathiyah Suma pada Pijarpena.id melalui keterangan tertulisnya, Jumat (29/08/2025), mengatakan pasien tersebut sempat dirawat selama 10 hari dan dilaporkan meninggal pada tanggal 16 Agustus 2025.

“Penderita adalah anak dengan status imunisasi zero dose atau anak yang belum menerima imunisasi rutin apapun, termasuk tidak pernah mendapatkan imunisasi vaksin untuk perlindungan dari penyakit difteri yaitu DPT-Hb-Hib,” ungkapnya.

Dinkes, tambah Fathiyah, pun bergerak mengambil sampel di tenggorokan pada kontak erat serumah untuk diuji swab. Selanjutnya para kontak erat diberikan terapi antibiotik sampai hari ketujuh.

Baca pula:  Akui ada Dugaan Keracunan pada MBG, Dinkes Awasi Dapur Penyedia

“Terapi diberikan pada kontak erat di rumah (orangtua dan saudara) dan juga di sekolah (teman sekelas dan guru),” jelasnya.

Ia menyebutkan, setelah pengambilan swab di tenggorokan, lalu melakukan RCA imunisasi atau penilaian cepat untuk mengidentifikasi riwayat imunisasi sasaran.

Diungkapkan, pihaknya juga melibatkan sejumlah pihak untuk melakukan percepatan pencegahan penyebaran penyakit difteri.

“Puskesmas wilayah terdampak dan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara serta Kementerian Agama (untuk sekolah dan PAUD yang berada dibawah naungan Kemenag),” sebutnya.

WhatsApp Channel PIJARPENA.ID