Ilustrasi inflasi. (Foto: AI)
Ilustrasi inflasi. (Foto: AI)

Inflasi 2 Daerah di Malut (Terus) Naik, Terpicu 4 Kelompok Pengeluaran

Ternate, Pijarpena.id

Inflasi tahunan (year-on-year atau y-on-y) di Provinsi Maluku Utara (Malut) pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,85 persen.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Malut, juga mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,64.

Kenaikan harga disebutkan terjadi di dua daerah penghitungan inflasi yakni Kota Ternate sebesar 6,57 persen  dengan IHK sebesar 113,22 dan Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) sebesar 2,64 persen dengan IHK mencapai 110,00.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara, Simon Sapary menjelaskan, inflasi tahunan terutama dipicu kenaikan harga pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak hingga 14,61 persen.

Baca pula:  51 Miliar (untuk) THR ASN Pemprov Malut, TPP dan Gaji Maret Dibayar Akhir Februari

“Tekanan inflasi Februari 2026 terutama berasal dari kenaikan tarif listrik, bahan bakar rumah tangga serta sejumlah komoditas pangan seperti ikan dan beras,” ujar Simon dalam rilis resmi BPS Malut, Senin (02/03/2026).

Selain kelompok perumahan, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,28 persen serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 7,96 persen.

BPS mencatat, komoditas yang dominan menyumbang inflasi antara lain tarif listrik, emas perhiasan, berbagai jenis ikan (cakalang, tuna, malalugis, dan tongkol), beras, bahan bakar rumah tangga, hingga tarif angkutan udara dan laut.

Di sisi lain, tiga kelompok pengeluaran mengalami deflasi, yakni pendidikan sebesar 20,40 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,20 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,18 persen.

Baca pula:  Ada 10 Desa di Halmahera Tengah yang Miliki Indeks Risiko Iklim Berstatus Tinggi

“Penurunan tajam pada kelompok pendidikan terutama disebabkan turunnya tarif sekolah menengah atas,” tutur Simon menjelaskan.

Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), inflasi Malut pada Februari 2026 tercatat 0,83 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) sejak Desember 2025 mencapai 2,33 persen.

Simon menambahkan, secara umum perkembangan harga pada Februari menunjukkan tren kenaikan yang cukup luas di berbagai kelompok pengeluaran.

“Kenaikan harga pangan, energi rumah tangga, dan komoditas jasa menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat,” katanya.

Dibandingkan tahun sebelumnya, inflasi Malut pada Februari 2026 jauh lebih tinggi. Pada Februari 2025, inflasi tahunan hanya sebesar 0,16 persen, bahkan secara tahun kalender saat itu masih mengalami deflasi 1,75 persen. (rud/fhm)

Kanal WhatsApp